Migrain episodik – Orang gemuk dan obesitas berada dalam risiko yang tinggi untuk
mengalami migrain, sebuah studi baru menunjukkan.
Kelebihan Berat Badan dan Migrain Episodik
Para
peneliti mencermati sebuah kondisi yang dinamakan migrain episodik,
bentuk sakit kepala yang terjadi kurang dari setiap dua hari sekali.
Mereka menemukan bahwa migrain episodik terjadi dua kali lebih banyak di
antara orang yang mengalami obesitas dibandingkan dengan orang dewasa
yang memiliki berat badan normal.
“Temuan ini seakan menekankan kepada para pasien dan dokter untuk
menyadari bahwa obesitas berhubungan dengan peningkatan risiko migrain
episodik dan sebaiknya tidak menunggu sampai pasien memiliki migrain
kronis,” ujar pemimpin peneliti Dr. Lee Peterlin. Untuk meminimalkan
risiko tersebut, orang yang mengalami obesitas sebaiknya menerapkan pola
hidup sehat, seperti diet dan olahraga.
Namun demikian, para peneliti masih belum yakin mana yang datang pertama kali, apakah kelebihan berat badan atau sakit kepala.
“Jika temuan ini bisa membantu meyakinkan orang untuk menurunkan berat badannya,
maka itu bagus, namun apakah bisa ditarik kesimpulan bahwa pengurangan
berat badan akan mengurangi serangan migrain? Itu pertanyaan yang belum
bisa mereka jawab,” ungkap Dr Tobias Kurth, dari University of Bordeaux.
Sekitar 10 hingga 15 persen orang mengalami migrain episodik, menurut
Peterlin. Penelitian sebelumnya telah mengaitkan obesitas dengan
migrain kronis yang bisa terjadi setidaknya setiap hari. Namun tidak ada
cukup bukti untuk membuktikan apakah berat badan juga berperan dalam
mengurangi frekuensi migrain.
Untuk mencoba menjawab pertanyaan itu, Peterlin dan rekan-rekannya
menganalisis data sekitar 3.862 orang yang berpartisipasi dalam survei
nasional AS pada awal tahun 2000, termasuk 188 yang dilaporkan mengalami
migrain rata-rata tiga atau empat kali setiap bulan.
Sekitar 32 persen orang dengan migrain episodik mengalami obesitas
dibandingkan dengan 26 persen dari penderita non-migrain. Setelah
memperhitungkan perbedaan lain antara orang-orang yang mengalami dan
tidak mengalami migrain, seperti usia dan kebiasaan merokok, para
peneliti menemukan bahwa obesitas telah dikaitkan dengan 81 persen
peluang lebih tinggi untuk mengalami migrain episodik.
Hubungan antara obesitas dengan migrain lebih kuat terutama pada
wanita dan orang yang berusia 50 tahun ke bawah, namun hal tersebut
masih belum jelas pada pria dan orang dewasa yang lebih tua. Hal ini
karena pria dan orang yang lebih tua umumnya memiliki peluang yang
rendah untuk mengalami migrain.
Peterlin mengatakan bahwa kemungkinan ada penjelasan terkait hubungan
tersebut. Orang yang mengalami migrain secara rutin mungkin kurang
aktif akibat nyeri yang dirasakan, atau mengonsumsi obat-obatan yang
mempengaruhi berat badannya.
Kurth, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut sepakat bahwa
faktor gaya hidup mungkin memainkan peran terhadap obesitas dan migrain.
Namun dia menghimbau untuk tidak menghubungkannya secara langsung
antara berat badan dan migrain episodik selama belum adanya penelitian
lebih lanjut. “Saya hanya berhati-hati,” ujarnya.