Orang dengan obesitas atau kelebihan berat badan dapat mengurangi risiko terjadinya masalah pada detak jantung yang tidak beraturan jika mereka mengurangi berat badannya, sebuah studi menunjukkan. Ketidakteraturan detak jantung atau yang disebut
fibrilasi atrial
tidak bisa diremehkan begitu saja. Kondisi tersebut bahkan merupakan
faktor risiko utama stroke sistemik dan bisa menyebabkan kematian.
Mencegah Fibrilasi Atrial Dengan Menurunkan Berat Badan
Turunnya berat badan
sangat berdampak positif bagi jantung, terutama memangkas risiko
terjadinya serangan jantung berdebar yang cukup akut terkait dengan
fibrilasi atrial. Temuan ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan
American Heart Association di Dallas, AS, dan diterbitkan secara
bersamaan dalam jurnal American Medical Association.
Fibrilasi atrial
(Fibrilasi atrium) merupakan suatu gangguan pada detak jantung,
ditandai dengan aktivitas dua bilik jantung atas (atrium) yang cepat dan
tidak beraturan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk
terkena stroke dan berpotensi mengalami masalah jantung.
Studi baru ini menemukan bahwa orang yang disiplin dalam menurunkan dan menjaga berat badannya,
diketahui mengalami penurunan gejala fibrilasi atrial hingga lima kali
lipat. Para pelaku diet juga memiliki 4,5 kali penurunan gejala
fibrilasi atrial dan dua setengah kali lebih hebat dalam melawan kondisi
firilasi atrial, ujar para peneliti. Gejala-gejala yang dimaksud adalah
jantung berdebar-debar, sesak napas, pusing, pingsan, kelelahan, dan
nyeri dada.
Dr. Prashanthan Sanders dari Universitas Adelaide di Australia
mengatakan “Kelebihan berat badan memiliki dampak yang signifikan
terhadap atrium. Sebagai contoh, obesitas dapat meningkatkan peradangan
dan memperbesar penebalan dinding jantung,” tambah Sanders.
Penelitian yang dilakukan selama 19 bulan ini melibatkan 150 orang
dengan indeks massa tubuh ( BMI ) lebih besar dari 27 . Secara umum,
orang dengan BMI (rasio berat terhadap tinggi) lebih dari 25 dianggap
sudah kelebihan berat badan . Sedangkan seseorang dengan BMI lebih besar
dari 30 akan dianggap obesitas. Berdasarkan informasi dari penelitian
tersebut, seseorang akan mengalami kenaikan risiko fibrilasi atrial 4
hingga 5 persen setiap kali BMI mereka naik sebesar 1 angka.
“Obesitas telah dianggap menjadi kontributor utama dari fibrilasi atrial,” kata Sanders .
Dalam studi ini, para partisipan dibagi menjadi dua kelompok, yakni
kelompok manajemen berat badan dan kelompok saran. Kelompok manajemen
berat badan pada 8 minggu pertamanya diharuskan mengonsumsi makanan yang
sangat rendah kalori (800 – 1200 kalori perhari). Mereka juga harus
mengikuti rencana latihan tertulis dengan intensitas ringan seperti
jalan kaki
atau bersepeda 3 kali dalam seminggu, 20 menit per sesi, dan secara
bertahap meningkat menjadi 45 menit. Sedangkan untuk para partisipan
lainnya (kelompok saran), hanya diberikan saran mengenai nutrisi dan
olahraga.
Partisipan yang tergabung dalam kelompok manajemen berat badan,
rata-rata mengalami penurunan berat badan hingga 14 kg, sedangkan pada
kelompok saran mengalami penurunan berat badan rata-rata sebesar 6 kg.
Kedua kelompok sama-sama mengalami penurunan gejala-gejala dari
fibrilasi atrial, namun kelompok manajemen berat badan lebih signifikan.