Apa Itu Diabetes? Apa Itu Gula Darah Tinggi?
Diabetes adalah kondisi jangka panjang yang membutuhkan perawatan khusus.
Penyakit gula darah tinggi, kencing manis, atau sakit gula adalah istilah lain yang sering digunakan untuk menggambarkan diabetes. Peningkatan tingkat glukosa darah di atas nilai normal adalah tanda diabetes.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak dapat mengangkut glukosa ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.
Akibatnya, glukosa menjadi lebih banyak dalam aliran darah. Diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan banyak komplikasi serius.
Selama waktu yang lama, kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada banyak organ dan jaringan tubuh, seperti ginjal, mata, dan sistem saraf. Diabetes dapat menyebabkan kerusakan saraf, juga dikenal sebagai neuropati diabetik, yang dapat menyebabkan berbagai keluhan, seperti kesemutan, kebas, sensasi terbakar, atau nyeri pada tangan dan kaki. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kesehatan saraf selain menjaga kadar gula darah tetap terkendali. Vitamin B kompleks, terutama vitamin B1, B6, dan B12, yang mendukung fungsi saraf serta proses regenerasi jaringan saraf, adalah salah satu nutrisi yang sangat penting untuk menjaga fungsi saraf. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa, dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahun, diabetes menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia.
Diabetes Memiliki Berbagai Jenis
Diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 adalah dua jenis utama diabetes melitus.
1. Penyakit diabetes tipe 1
merupakan penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh secara salah menyerang dan merusak sel-sel penghasil insulin pankreas. Akibatnya, tubuh tidak dapat memproduksi insulin sama sekali.
2. Diabetes mellitus tipe 2
Dalam kasus seperti ini, sel-sel tubuh merespons insulin dengan buruk atau tubuh tidak memproduksi cukup insulin.
Karena glukosa tidak dapat digunakan secara efektif sebagai sumber energi, kadar glukosa darah meningkat.
3. Diabetes pada wanita hamil
diabetes yang muncul selama kehamilan Biasanya tidak ada lagi setelah melahirkan, tetapi meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari.
4. Sindrom prediabetes
penyakit di mana kadar gula darah lebih tinggi dari normal tetapi belum cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes. Risiko terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan stroke meningkat jika seseorang memiliki prediabetes.
Faktor Penyebab Diabetes
Kadar gula darah yang normal berkisar antara 70 dan 99 mg/dL. Jika kadar gula darah mencapai 100-125 mg/dL, itu adalah tanda bahwa Anda memiliki prediabetes. Namun, kadar gula darah yang mencapai 126 mg/dL atau lebih sudah dianggap sebagai diabetes. Hiperglikemia adalah istilah untuk kadar gula darah yang tinggi. Pada dasarnya, hiperglikemia adalah tingkat gula dalam darah yang tinggi.
Faktor-faktor dalam tubuh yang mencegah tubuh menggunakan glukosa secara efisien adalah penyebab gula darah tinggi pada diabetes. Ketika ini terjadi, glukosa meningkat dalam darah. Sistem kekebalan tubuh diabetes tipe 1 biasanya melawan virus atau bakteri, bahkan menyerang dan merusak sel-sel penghasil insulin di pankreas.
Akibatnya, gula yang seharusnya diubah menjadi energi menumpuk dalam darah karena tubuh kekurangan insulin atau bahkan tidak dapat memproduksinya. Pada diabetes tipe 2, tubuh dapat menghasilkan insulin, tetapi sel-sel tubuh tidak responsif terhadap insulin, yang disebut resistensi insulin.
Diabetes Faktor Risiko
Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit gula tipe 1 termasuk:
Faktor riwayat keluarga atau keturunan, misalnya, kemungkinan terkena diabetes tipe 1 lebih tinggi jika ada anggota keluarga yang mengidap penyakit yang sama karena hubungan dengan gen tertentu
Orang yang tinggal jauh dari garis khatulistiwa, seperti di Finlandia dan Sardinia, berisiko terkena diabetes tipe 1 karena faktor geografis. Hal ini karena kekurangan vitamin D yang dapat diperoleh dari sinar matahari, yang menyebabkan penyakit autoimun.
Faktor umur Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak usia 4 hingga 7 tahun, dan kemudian pada anak-anak usia 10 hingga 14 tahun.
Faktor pemicu tambahan termasuk minum susu sapi terlalu dini, minum air yang mengandung natrium nitrat, sereal, dan gluten sebelum usia 4 bulan atau setelah 7 bulan, memiliki ibu yang pernah mengalami preeklampsia, dan menderita penyakit kuning saat lahir.
Namun, faktor-faktor yang meningkatkan risiko penyakit gula tipe 2 adalah sebagai berikut:
berat badan berlebihan
distribusi lemak yang tinggi di perut.
Mereka menjalani gaya hidup yang tidak aktif dan jarang berolahraga atau beraktivitas.
riwayat keluarga diabetes tipe 2.
Dibandingkan dengan populasi kulit putih, populasi kulit hitam, hispanik, Asia-Amerika, dan asli Amerika memiliki angka pengidap yang lebih tinggi.
usia di atas 45 tahun, tetapi ada kemungkinan sebelum 45 tahun.
Kondisi prediabetes, di mana kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tetapi tidak cukup tinggi untuk dianggap diabetes
riwayat diabetes sebelumnya saat hamil.
Wanita dengan sindrom ovarium polikistik, yang ditandai dengan menstruasi tidak teratur, pertumbuhan rambut yang berlebihan, dan obesitas
Gejala Diabetes, juga dikenal sebagai Gula Darah Tinggi
Setiap penderita diabetes atau kencing manis memiliki gejala yang berbeda.
Karena itu, kondisi ini bergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakit gula yang diderita pasien.
Pengidap biasanya menunjukkan gejala berikut, baik tipe 1 maupun tipe 2:
menjadi lebih haus dan sering lapar.
Peningkatan jumlah kali seseorang buang air kecil.
Mudah lelah atau kelelahan sepanjang waktu
Gangguan penglihatan, seperti pandangan yang kabur, muncul.
Gusi berwarna merah dan bengkak
Infeksi bakteri atau jamur
Kesulitan
Kulit menjadi kering
Sakit kepala dan lemas
Luka yang tidak dapat sembuh
Memiliki PCOS
infeksi tubuh yang berkelanjutan, terutama di gusi, kulit, dan area vagina wanita.
Penurunan berat badan yang penyebabnya tidak diketahui.
Karena kekurangan insulin, tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama jika ada keton dalam urine. Ketika kekurangan insulin menyebabkan glukosa tidak dapat digunakan sebagai sumber energi, produk sampingan pemecahan lemak adalah keton.
Oleh karena itu, jika Anda mengalami salah satu hal di atas, segera konsultasikan dengan dokter Anda.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa mereka yang menderita diabetes mendapatkan perawatan yang tepat sejak dini, sehingga mereka dapat mengurangi risiko komplikasi diabetes lainnya.
Diagnosis Gula Darah Tinggi
Setelah melakukan wawancara dengan pasien, dokter akan mendiagnosis penyakit tersebut. Selanjutnya, dokter akan memeriksa glukosa darah.
Dokter dapat menguji glukosa darah dalam tiga cara:
1. Tes glukosa darah selama berpuasa
Selama pemeriksaan, individu yang menderita penyakit gula dilarang makan atau minum apa pun selain air putih, yang dikenal sebagai puasa.
Melakukan puasa ini setidaknya delapan jam sebelum ujian. Karena makanan dapat memengaruhi gula darah, pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk mengukur gula darah dasar.
2. Tes acak glukosa darah
Pemeriksaan ini dapat dilakukan kapan saja dan tidak memerlukan persiapan khusus, bahkan saat tidak berpuasa.
1. A1c
Tes ini juga disebut sebagai tes hemoglobin terglikasi atau HbA1C. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk menunjukkan tingkat glukosa darah rata-rata individu selama dua hingga tiga bulan terakhir.
4. Penelitian tentang toleransi glukosa oral
Dokter akan melakukan tes ini setelah puasa semalam untuk mengukur glukosa darah.
Orang yang menderita gula kemudian akan minum minuman manis. Selanjutnya, tingkat glukosa darah pasien diperiksa pada jam satu, dua, dan tiga.
Dokter juga akan melakukan tes darah dan urine untuk mengetahui apakah seseorang memiliki diabetes tipe 1 atau 2.
Nantinya, darah akan diperiksa untuk autoantibodi, yang merupakan indikasi dari serangan sistem kekebalan tubuh sendiri. Pada saat yang sama, urine akan diperiksa untuk mengidentifikasi adanya keton, yang merupakan tanda bahwa tubuh seseorang membakar lemak untuk mendapatkan energi. Anda dapat melakukan pemeriksaan ini di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.
Metode Pengobatan Diabetes
Pengobatan disesuaikan dengan jenis sakit gula Anda.
Salah satu pengobatan untuk pasien dengan kondisi ini, baik tipe 1 maupun tipe 2, adalah terapi insulin.
Transplantasi pankreas dapat menjadi pilihan untuk mengatasi kerusakan pada pankreas, bahkan bagi mereka yang menderita diabetes tipe 1.
Namun, beberapa jenis obat akan diberikan kepada orang yang menderita diabetes tipe 2.
Menurunkan risiko diabetes, bagaimanapun, biasanya memerlukan beberapa perawatan, seperti:
1. Mengadopsi pola makan sehat
Sebaiknya kembali ke pola makan sehat jika Anda menderita diabetes.
Tingkatkan konsumsi buah, sayur, protein tanpa lemak, dan biji-bijian.
Selain itu, Anda harus meningkatkan konsumsi serat dan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh, karbohidrat olahan, dan pemanis buatan.
2. Melakukan aktivitas fisik secara teratur
Untuk menjaga kesehatan optimal, semua orang, termasuk pengidap diabetes, perlu berolahraga.
Satu cara untuk menurunkan kadar gula darah adalah berolahraga, yang mengubah gula darah menjadi energi.
Anda dapat melakukan aktivitas fisik yang sederhana, seperti berjalan kaki, berenang, atau bersepeda.
Untuk membantu Anda mencegah kondisi diabetes Anda menjadi lebih buruk, lakukan olahraga ini setiap hari.
3. Menjaga Berat Badan Terbaik Anda
menurunan berat badan jika Anda obesitas atau kelebihan berat badan.
Dengan mengikuti program klinis yang diawasi langsung oleh dokter dan ahli gizi profesional, Anda dapat segera mengubah gaya hidup Anda ke arah gaya hidup yang lebih sehat.
-Ads Here-