-Ads Here-
Ketika apendiks, kantong cacing kecil yang menempel pada usus besar, mengalami peradangan akut, itu disebut sebagai apendisitis, yang juga dikenal sebagai radang usus buntu. Jika tidak ditangani segera, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti perforasi usus buntu atau peritonitis yang berbahaya.
Untuk mengenali penyebab awal peradangan ini, sangat penting untuk memahami etiologi apendisitis. Penyumbatan pada lumen (saluran dalam) usus buntu menyebabkan infeksi sekunder adalah penyebab utama apendisitis.
Ketika saluran tersembat, mukus dan bakteri berkembang biak dengan cepat. Kondisi ini meningkatkan tekanan di dalam organ, yang menghambat aliran darah dan menyebabkan pembengkakan dan pembentukan nanah.
Penyebab Tradisional Apendisitis
Penyumbatan pada lumen apendiks adalah penyebab utama apendisitis. Beberapa penyebab utama penyumbatan ini adalah fekalit (feses yang mengeras dan menumpuk), hiperplasia jaringan limfoid, atau cacing parasit atau benda asing yang tidak terserap tubuh.
Bakteri yang secara alami ada di dalam usus berkembang biak tanpa pengawasan setelah lumen usus tersumbat. Ini menyebabkan respons peradangan sistem kekebalan tubuh, yang mengakibatkan penumpukan cairan nanah, gangguan sirkulasi pembuluh darah lokal, dan nekrosis (kematian jaringan) di dinding usus buntu.
Faktor Risiko Apendisitis
Selain penyebab utama penyumbatan lumen, ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terkena apendisitis:
Pola Makan Rendah Karbohidrat: Konsumsi makanan berserat yang rendah dapat menyebabkan konstipasi dan fekalit keras.
Infeksi Saluran Pencernaan: Infeksi bakteri atau virus pada usus dapat menyebabkan jaringan limfoid di sekitar apendiks membengkak.
Usia Muda: Usia 10–30 tahun adalah usia yang paling sering mengalami apendisitis.
Faktor Genetik: Risiko mengalami penurunan struktur anatomi apendiks dapat meningkat jika ada anggota keluarga dengan riwayat radang usus buntu.
Studi yang Berhubungan
Lebih dari 60% kasus apendisitis akut pada orang dewasa disebabkan oleh fekalit, menurut penelitian terbaru dalam World Journal of Emergency Surgery (2026). Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa penanganan diagnostik dini menurunkan risiko komplikasi perforasi hingga di bawah 5%.
-Ads Here-